2 Desember 2012

Cerita Pendek Rubhy

 

 Matahari mulai meninggi. Menyombongkan sinar teriknya yang menjilat-jilati kulit. Mungkin dia selalu berkata, "Biarlah orang berkata apa. Yang penting aku nahagia."
   Aku berdiri dipinggir trotoar sekolah yang berdebu dan panas, dengan satu tangan memegang payung, dan yang satunya lagi menggenggam iPhone 4s. Sambil menunggu mang Ujang, aku membuka aplikasi twitter dan sign dengan username @rubhy. Weh, mention penuh!
   Serasa seperti orang yang paling dicintai, saat aku menutup aplikasi twitterku, tadaaaa! Fans datang mengejar. Aku yang kaget sontak berlari -bukan sombong loh, ya. "Mang Ujang mana siiih?"
                                                                      
                                                                              ***

   "Kriing.. Kriiing.. Kriiiinngg..."
   Bel tanda pelajaran usai selalu nikmat didengar. Walaupun terkadang terjadi PHP, karena si guru salah pencet bel. Aku bergegas membereskan buku-bukuku dan lekas keluar dari kelas.
   "Oi, Rub!" Aku menoleh ke belakang. Sekedar memastikan kalau yang memanggilku barusan memang benar-benar seorang manusia.
   "Kenapa, Put?" Yang ditanya langsung tertawa terbahak-bahak. Sepertinya Putri sedang mencoba mengatakan sesuatu. Atau mungkin memberikan sesuatu? Karena aku melihat secarik kertas ditangannya, dan, hey! Sepertinya aku mengenali kertas itu.
   "Gu... Gu... Guee..., hahaaa!!" Aku melihatnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Bingung, cemas, dag dig dug, entahla. Dan satu lagi, sedikit mengalami heart attack karena saat saat melihat -sekali lagi- kertas yang putri pegang, aku merasa seperti,... "Jangan-jangan..."  Aku langsung merampas kertas itu. "lo udah baca ?!" Putri hanya mengangguk dan tertawa semakin keras. Seketika wajahku memanas dan berubah menjadi semerah kepiting rebus. Aku langsung berlari meninggalkan Putri.

                                                                             ***

   Matahari mulai meninggi. Menyombongkan sinar teriknya yang menjilat-jilati kulit. Mungkin dia selalu berkata, "Biarlah orang berkata apa. Yang penting aku nahagia."
   Aku berdiri dipinggir trotoar sekolah yang berdebu dan panas, dengan satu tangan memegang buku yang kujadikan payung, dan yang satunya lagi menggenggam iPhone 4s tiruan. Sambil menunggu angkot, aku membuka aplikasi twitter dan sign dengan username @rubhy. Weh, mention kosong!
   Serasa seperti orang yang paling sial, saat aku menutup aplikasi twitterku, tadaaaa! "Waaaa..!!" Orang gila datang mengejar. Aku yang kaget sontak berlari -wajar dong, kaget. "Arrgghh! angkot mana siiih?"
   Disaat situasi memberikan isyarat aman, aku memutuskan untuk pergi ketaman, "Ah, nantilah pulang!"
 Aku membaca ulang cerpen di kertas yang aku rebut dari Putri tadi. Perutku mulas seketika, "Oh, what the shame!" Beda 180 derajat dengan kehidupan asliku.
   "Apa-apaan itu? iPhone 4s, mang Ujang, fans, mention yang banyak. sungguh hayalan yang sangat tinggi. Ngaca dong, Rub! Elo itu cuma anak dari seorang PNS. masih untung juga elo bisa sekolah!"
   Aku pikir aku memang salah jika menghayal dengan jutaan angan-anagn yang memang tak akan mungkin bisa terwujud. Aku meremas kertas cerpenku tadi hingga menjadi segumpal bola kertas. kemudian membuangnya asal-asalan.
   Puukk..

                                                                              *** 

 "Rubhy, ini punya Elo?" Aku menoleh kebelakang. Eh, mampus dehlo, cerpen gue dibaca sama, ROBI!
  Langit cerah membungkus taman kota. Rumput-rumput kecil menari lembut.Suasana tenang ditemani dengan semilir angin sepoi-sepoi. Aku merebahkan tubuhku diatas gundukan tanah dengan dialasi rumput yang sedikit membukit. 
   "Hahaa, gue harap elo bisa maklum dengan hayalan super dewa gue di cerpen tadi, Rob." Aku mengangkat kedua tanganku hingga menutupi raut wajahku yang memerah dan menahan tawa yang -mungkin- disertai ringisan air mata yang tak tahan keluar.
  "Haha, gapapa kali, Rub. Siapa coba yang gamau ngerasain hidup enak. sekalipun itu cuma hayalan, yakan?" Aku hanya mengangguk lemas dan membukan tudung tangan yang menutupi wajahku.
  Robi adalah teman sebangku-ku dan harus aku akui, aku suka dia. Yaaa, sepertinya cerita cintaku pasaran banget ya? dia memang bukan sahabat kecilku. aku akrab dengan Robi mulai dari kelas 1 SMA. Sampai sekranag. Tidak terasa, sudah 2 tahun aku bersama-sama dengan dia.
   Wajah kurusnya dihiasi dengan mata bundar besar. Dengan biji mata sehitam buah leci dilengkapi dengan bulu mata yang tidak terlalu panjang. Rambut hitam -agak- panjangnya sedikit menutupi alis yang hampir tidak kelihatan itu. Wajahnya sangat sempurna, Tuhan.
   Badan jangkungnya, membuatku malu berdiri disebelahnya. Hahaa..
   "Paan si Elo mandangin gue kayak gitu, Rub." Robi mendorong lembut wajahku. Tingkah konyolnya kalau lagi salah tingkah.
   "Makasih ya, Rob. Elo udah mau jadi temen gue." Aku tersenyum dengan sangat tulus kepadanya. Sampai-sampai seperti dibuat-dibuat.
   Robi hanya mengulurkan tangannya, "Yuk gue anterin elo pulang."

                                                                                   ***

To be continue ...

1 komentar:

kalo ada kesalahan, mohon komennya :) makasih
kalo ga mau komen, klik tombol reaksinya aja yah :D